Ada Mentari di Balik Awan Gelap

Bukan buatan saya judul ini. Saya teringat kalimat ini diungkapkan oleh RD. Dr. Yohanes Ola Keda. Imam Diosesan senior, ketika mengikuti Retret Imam Diosesan di Rumah Retret Payang.

Kata-kata ini kembali kujadikan inspirasi untuk menulis perjuangan Tim Akreditasi Kampus STKPK Bina Insan yang berjuang memersiapkan segala hal yang kurang lebih memakan waktu tiga tahun lebih.

Masih hangat dalam ingatanku, kala Tim dibentuk, banyak sekali waktu itu. Namun, satu persatu menarik diri. Bukan karena tak sanggup. Mungkin ada kesibukan lain. Standart dan peraturan yang terus berubah, membuat kami harus terus menyesuaikan diri. Tak kenal siang atau malam. Tim yang tersisa terus bekerja. Tanpa henti. Wajah penuh harap, selalu disaksikan ketika datang mengunjungi mereka.

Perjuangan memang mengajarkan banyak hal. Teman-teman yang tadinya berangkat dalam kegelapan. Masih meraba-raba harus berbuat seperti apa, kini mereka sudah jauh lebih ahli dan sangat profesional.

Kagum dan salut. Dua kata yang dapat ditempatkan untuk memberi penghargaan kepada mereka. Jika mereka bukan pribadi-pribadi yang tabah, mungkin sudah lama pergi. Bekerja dalam ketidakpastian, memang tidak enak. Namun, salut mereka menikmatinya.

Cinta pada Gereja dan Masa Depan. Semangat ini yang kiranya tetap menjadi penopang bagi para dosen dan teman-teman yang tetap setia mengerjakan dan melengkapi dokumen-dokumen yang diperlukan untuk akreditasi kampus. Jika dipikirkan dalam perhitungan untung dan rugi, untuk apa membuang-buang waktu tetap bertahan mengerjakan hal-hal ini. Toh teman-teman angkatan yang lain sudah menikmati gaji pertama, kedua dan ketiga dan seterusnya dalam sukacita.

Pengabdian dan dedikasi tanpa batas, itulah yang mendidik mereka untuk tetap setia. Ungkapan-ungkapan yang melemahkan, kadang juga datang silih berganti, namun tak juga menyurutkan semangat anak-anak muda ini.

Romo ketua, bersama dengan beberapa dosen tetap setia mendampingi. Dalam kesederhanaan dan kehangatan keluarga kami berjuang. Kiranya suasana ini yang selalu menjadi “pemangkas waktu”. Energi dikala penat dan penghibur di kala kebosanan yang kerab mampir bagai tamu tak diundang.

Kami sempat hampir menyerah, ketika kepastian tak kunjung datang dari pihak Badan Akreditasi Perguruan Tinggi. Namun, Tuhan menjawab doa-doa hambaNya yang berteriak minta tolong. Awal bulan Desember 2012, kabar baik muncul dari BAN PT. STKPK BI akhirnya mendapat jadwal untuk diakreditasi.

Kerja Keras di Jilid yang kesekian kembali digiatkan. Sedih, hanya bisa memantau dari kejauhan di ujung pulau ini. Dosen dan Mahasiswa bahu membahu menyiapkan ruangan dan fasilitas. Semua diusahakan dalam waktu yang singkat.

Itulah arti keluarga. Kami bukan tentang dosen dan mahasiswa. Kami bukan tentang karyawan dan staf Pengajar. Kami semua adalah keluarga besar di rumah kami. Keluarga yang mau mengupayakan dan mempersiapkan yang terbaik untuk rumahnya. Mempersiapkan yang terbaik untuk saudara-saudaranya.

Tak kenal siang dan malam, semuanya bekerja bahu membahu. Tak ada keluhan, hanya ada keceriaan dan sukacita.

Ada haru, diujung semua kerja keras ini. Ada pula kegelisahan dan tanda tanya. Akan kah terbayar semua kerja keras kita. Kira-kira dapat predikat apa kampus kita. Kadang ada pula cetusan itu, ditengah peluh yg bercucuran.

Jika ukurannya adalah gedung dan Fasilitas, kita bisa dengan percaya diri menghadapi para assesor. Tentu bukan itu saja ukurannya. Kelengkapan fasilitas memang menjadi patokan, namun dokumen pendukung juga adalah ukuran utama. Inilah yang kami persiapkan beberapa tahun terakhir ini.

Dokumen borang yang lebih tebal dari Ensiklopedi telah selesai dibaca Assesor. Dak, dik, duk, detak jantung seakan tak menentu. Menunggu detik-detik kedatangan Tim Akreditasi. Apapun yang terjadi, mari kita hadapi.kita sudah menyiapkannya lama, maka jangan khawatir. Letupan-letupan ungkapan untuk saling meneguhkan.

Seperti hendak menghadapi ujian lisan, kami belajar. Salut juga dengan beberapa dosen yang memiliki kesibukan lain, namun masih memprioritaskan waktunya untuk datang menyiapkan finishing dokumen dan fasilitas gedung.

Cigarskruie atau CK menjadi teman setia di kala lembur. Rokok sehat yang seakan menjadi simbol keberuntungan kami. Kocak, ada yg tak biasa merokok pun pelan-pelan mencoba merasakan aroma terapinya. Semua lini dikerahkan untuk turut menyukseskan akreditasi ini. Doa yang tulus dari semua pihak dimohonkan. Dari yang berdomisili di Ujung Kaltim, hingga yang sedang studi di Malang dan Roma. Tinggal Tuhan mau dengar yang mana terserah padaNya.

Saatnya tiba juga. Menegangkan sih. Namun, tetap hangat dan kekeluargaan. Semua tampak berjalan lancar. Ah, ku tahu Tuhan pasti buka jalan. Memang benar, Tuhan buka jalan. Semua ketakutan yg tak pasti tidak terbukti sedikitpun. Semua kegelisahan yg diramalkan dalam gelap, tak muncul sedikitpun. Faktanya semua diluar perkiraan. Lancar dan berjalan baik. Hangat dan kekeluargaan. Kami dan Tim Assesor tampak bagai keluarga, tanpa mengurangi professionalitas mereka untuk memeriksa kelengkapan dokumen dan fasilitas Kampus kami.

Sinar mentari yang tadinya terhalang awan gelap, perlahan-lahan mulai bermunculan. Terima kasih sudah menjawab doa kami. Terima kasih sudah banyak yang mendoakan kami. Haru, syukur dan pekik bahagia mengiringi hasil yang diumumkan. Kami akhirnya memperoleh predikat B. Jarang ditemukan. Langka, ya memang langka karena baru pertama akreditasi langsung mendapat nilai yang demikian.

Sidang Terbuka Senat Wisuda Angkatan Pertama STKPK Bina Insan (foto by FB STKPK Bina Insan)
Sidang Terbuka Senat Wisuda Angkatan Pertama STKPK Bina Insan (foto by FB STKPK Bina Insan)

Kami bukan sombong. Kami hanya bangga dan membagikan kebahagiaan. Terbayar, semua kerja keras selama ini. Istirahatlah sejenak, namun jangan lama terlena. Kita masih punya pekerjaan besar.

Akhirnya, kampus STKPK BINA INSAN sudah bisa mewisuda Mahasiswa/i-nya. Penantian bertahun-tahun sudah terjawab. Lembaran kelam telah diganti dengan sinar harapan.

Selamat untuk semua kerja keras kita. Hasil tak pernah menghianati usaha. Teruslah belajar, bagi para intelektual muda. Jangan berhenti hanya karena sudah menjadi guru. Teruslah berjuang untuk meraih nilai lebih, namun dengan cara-cara yang terhormat. Dedikasikan dirimu untuk Gereja dan Negara. Jangan untuk mengejar kehormatan pribadi. Sudah banyak yang kecewa akan hal itu.

Selamat untuk STKPK BI. Selamat untuk kita semua. Selamat bergembira untuk teman-teman yang akan diwisuda.

Jadilah garam dan terang dunia. Jadilah pendamai di kala terjadi kerusuhan. Jadilah penyemangat bagi anak didikmu dikala terdera oleh rasa malas. Jadilah pewarta sukacita di tengah godaan jaman yang kian tak pasti.

Maaf, tulisan ini jauh dari kata “baik, teratur dan sempurna”. Ditulis di depan Teras Pastoran Long Pahangai, sembari ditemani semilir angin senja. Suara Mesin Perahu ketinting hilir mudik d Mahakam menjadi teman setia penyumbang inspirasi. Rasanya tak ingin mengakhiri tulisan ini, tapi aku harus berhenti karena hari telah malam. Namun bagi semua yang membaca, Anda diijinkan untuk melengkapi tulisan yang sekiranya jauh dari kata sempurna ini.
Buah Durian
Dikupas bersih.
Cukuplah sekian
Ku ucapkan limpah terima kasih…..

Salam dari Bukit Golgota…Tuhan Memberkati.

Leave a Reply