On Going Formation (OGF) UNIO Indonesia ke 2

Pada tanggal 15-19 Juli 2019, berlangsung kegiatan On Going Formation (OGF) UNIO Indonesia, yang ke 2. Bertempat di Wisma Salam, Jogyakarta. Dengan tema “Kerasulan Sosial dan Keberpihakan Pada Orang Miskin”. Yang diikuti oleh para imam-imam, yang berjumlah 44 orang (Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Bandung, Keuskupan Agung Semarang, Keuskupan Purwokerto, Keuskupan Malang, Keuskupan Surabaya, Keuskupan Agung Palembang, Keuskupan Tanjungkarang, Keuskupan Pakalpinang, Keuskupan Agung Medan, Keuskupan Sibolga, Keuskupan Padang, Keuskupan Agung Makasar, Keuskupan Ambonia, Keuskupan Manado, Keuskupan Denpasar, Keuskupan Banjarmasin, Keuskupan Agats, Keuskupan Agung Samarinda).

Para peserta didampingi oleh para pamateri: RD Simon Petrus L. Tjahjadi, dengan materi “Jejak-jejak Kerasulan Imam Diosesan, Spiritualitas Kerasulan Imam Diosesan”; RD Bernardus Singgih Guritno dengan materi “Gereja Diaspora: Hidup Menggereja di Era Digital”; RD C.B. Mulyatno dengan materi “Teologi Pemerdekaan Fondasi Membela Martabat Manusia”. Semua materi yang digunakan bertitik tolak atau bersumber dari Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, yang akrab dengan sebutan Romo Mangun. Yang para pemateri peroleh dari perjumpaan langsung dengan almarhum Romo Mangun, hasil kesaksian mereka yang berjumpa dan mengalami kebersamaan dengan almarhum, serta memperlajari tulisan buku dan peninggalan-peninggalan atau situs-situs (napak tilas Romo Mangun).

Napak tilas yang boleh dikunjungi oleh para romo peserta: kunjungan ke perkampungan Code, kunjungan ke Wisma Kuwera, berziarah ke makam romo mangun di kentungan, exposure ke sekolah Mangunngan, kunjungan ke Gereja Boro, dan exposure ke Sendang Sono. Dengan gambaran di atas, sangat jelas metode yang para pemateri gunakan ialah, tatap muka dengan menyampaikan materi, pertanyaan reflektif yang di sheringkan dalam kelompok, serta napak tilas dari Romo Mangun. Inti materi yang di sampaikan pertama, identitas imam diosesan, kedua, mencari dan menyelamatkan, ketiga, berteologi pengalaman hidup bersama dengan umat.

Dari materi yang disampaikan merumuskan arah yang sama untuk kegiatan berdasarkan keusukupan, konteks masing-masing. Malam penutup acara hiburan dan pentas seni, dari Kulidut (angklung dangdut). Dalam acara hiburan para imam juga ambil bagian mengisi acara. Sehingga semuanya larut dalam suka cita kegembiraan.