Idul Fitri, Momen Merajut Persaudaraan

Pada malam hari raya Idul Fitri dilakukan takbir keliling yang sudah menjadi budaya. Hal ini sesungguhnya merupakan manifestasi kebahagiaan setelah berhasil memenangi ibadah puasa, atau sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas kemenangan besar yang diperoleh setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh.

Pada hari Rabu, 5 Juni 2019 kesempatan bagi umat Katolik, para Pastor, Suster dan Dewan Pastoral Paroki untuk bersilaturami.
Pukul 10.00 wita, berangkat dari pandopo paroki ke pandopo Bupati. Ketika pukul 10.15 wita, rombongan tiba dan disambut oleh Bapak Bupati Tana Paser, H. Yusriansyah Syarkawi berserta keluarga. Sekitar pukul 10.30 wita rombongan melanjutkan silaturahmi ke Kapolres Paser, ke rumah kediaman AKBP Roy Satya Putra.

Pukul 11.15 wita, rombongan melanjutkan ke Open House Ketua DPRD Kabupaten Paser H. Kaharudin. Pada pukul 12.00 wita, rombongan ke rumah kediaman Sekretaris Daerah Drs. Katsul Wijaya, M, Si. Pada pukul 13.00 wita, rombongan melanjutkan ke rumah kediaman Almarhum Wakil Bupati Paser HM Mardikansyah. Setiap kunjungan, rombongan bersilaturahmi dan melanjutkan dengan mencicipi hidangan, setelah itu sempat berfoto bersama.

Foto: Bersama Bupati Tana Paser, H. Yusriansyah Syarkawi
Foto: Bersama Ketua DPRD Kabupaten Paser H. Kaharudin.
Foto: Bersama Kapolres Paser AKBP Roy Satya Putra.

Dalam pandangan saudara kita, pentingnya silaturahmi sebagaimana Sabda Rasulullah SAW yang artinya “Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan melainkan keduanya akan diampuni (dosanya) sebelum mereka berpisah. Setiap orang yang diampuni, pasti akan disucikan. Sesuai dengan arti Idul Fitri berarti kembali kepada asal kejadiannya yang suci dan mengikuti petunjuk Islam yang benar. Bagi umat Islam yang telah lulus melaksanakan Ibadah puasa di Bulan Ramadhan akan diampuni dosanya sehingga menjadi suci kembali seperti bayi yang baru dilahirkan dari kandungan Ibunya.

Idul fitri, merupakan momentum untuk merajut persaudaraan umat: pertama, perpolitikan yang sempat memanas,
Idulfitri kali ini seakan menjadi telaga yang mendinginkan suasana, sehingga para elit politik saling bermaafan yang sangat ditunggu oleh rakyat Indonesia demi Indonesia yang berkemajuan.

Kedua, tolerasi antar umat beragama, Toleransi berarti suatu sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau antarindividu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Misalnya, Letak Gereja Katedral dengan Masjid Istiqlal yang berseberangan di pusat Jakarta telah menjadikannya sebagai ikon wujud toleransi keberagaman. Meminjamkan halaman parkir menjadi kebiasaan dua tempat peribadatan tersebut.

Dan Gereja Katolik Hati Kudus Yesus, Kayutangan, juga menjadi lokasi untuk salat. Dijadikannya pelataran Gereja Katolik itu untuk salat, bukan setahun dua tahun. Tradisi itu bahkan sudah berlangsung lebih dari 25 tahun. Ketiga, kemajemukan masyarakat, masyarakat Tana Paser beranekaragaman, yang terdiri dari ras dan etnis, serta agama. Sebagai masyarakat yang mejemuk dan menghormati kemajemukan, kegiatan keagamaan menempa kita menjadi pribadi yang bertakwa, sehingga ketika Idulfitri tiba diharapkan semua kembali fitri. Karena yang membedakan kita di sisi Allah hanya takwa. Semua saling maaf dan memaafkan.

Leave a Reply