Seminar Nasional PKSN KWI Ke-6: Memperkokoh NKRI Melalui Media Digital

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Pekan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) yang ke-6 dalam Rangka Hari Komunikasi Sosial sedunia ke-53 yang berlangsung di Keuskupan Agung Makassar, Komsos KWI menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema “Memperkokoh NKRI Melalui Media Digital.” Senin (27/05/2019)

Sekjend KWI, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC dalam pengantarnya meneguhkan tema Hari Komsos Sedunia dengan menekankan kesadaran akan realita dunia dewasa ini yang telah memasuki fase digital hingga sampai pada era industri 4.0. Fase ini telah mengubah bukan hanya mind-set manusia, tetapi juga mengubah hand-set atau cara kerja manusia. Seiring dengan perubahan ini diperlukan juga revolusi mental, moral dan spiritual yang memampukan manusia untuk memanfaatkan kemajuan ini sebagai rahmat Tuhan untuk menciptakan kemajuan dan kebaikan bersama seluruh umat manusia.

Perlu disadari bahwa semua orang adalah anggota dari komunitas hidup manusia yang sama. Revolusi Industri 4.0 dengan segala peluang dan tantangannya perlu diikuti dengan revolusi mental, moral dan spiritual. “Tidak semua yang bisa dilakukan teknologi itu boleh dilakukan secara moral. Jangan sampai pula teknologi mereduksi kepercayaan manusia pada Tuhan. Kita perlu membangun persaudaraan komunitas insani melalui potensi perkembangan industri digital. Kita diundang untuk melakukan perubahan heartset, yakni menyiapkan hati sesuai dengan panggilan kita sebagai orang Kristiani. Tanpa perubahan mentalitas, Industri 4.0 yang dianggap menjadi ‘Mesias’ justru berbalik menjadi bumerang bagaikan ‘Firaun’ yang memperbudak manusia dengan memperlakukan sesamanya seperti barang atau binatang,” ujar Mgr. Antonius.

Selanjutnya, para narasumber dalam seminar nasional ini juga menegaskan bahwa dalam era digital ini, cara hidup dan cara kerja manusia telah bergeser melalui tahap-tahap sebelumnya, mulai dari 1.0 dan kini telah mencabai era 4.0.
Pada fase 1.0 segala sesuatu manual dan komunikasi terjadi dari muka ke muka, masuk ke 2.0 dengan kehadiran mesin-mesin di jaman industri, demikian berlanjut ke industri 3.0 yang ditandai dengan komputerisasi, dan sekarang telah memasuki era industri 4.0. Pada era ini manusia hidup berjejaring dan mulai juga membangun komunikasi virtual, yakni manusia dengan mesin. Saat ini dalam bidang ekonomi, telah tumbuh economy-digital.

Doc: PKSN KWI Ke-6 (Drs.Errol Jonathans bersama Sekjen Kemkominfo RI Dra. R. Niken)

Di Indonesia telah berkembang perusahaan yang berbasis economy-digital setingkat start-up (perusahaan rintisan) bahkan sebagian telah berubah menjadi Unicorn (perusahaan rintisan dengan valuasi miliar), dan beberapa telah menjadi perusahaan Decarorn dengan valuasi mencapai triliun rupiah.
Dalam dunia kerja, kita mengenal inteligent robotic yang diprediksi dalam berapa tahun ke depan membuat jutaan orang kehilangan pekerjaan sebab peran mereka akan digantikan oleh robot ini. Pekerjaan travel agent, akuntansi, teller bank, agent asuransi, telemarketing, pustakawan bisa jadi punah dan muncul 50 jenis pekerjaan baru yang berbasis digital.

Perkembangan dunia digital yang telah mendorong kemajuan dunia era industri 4.0 telah mengubah perilaku manusia secara menyeluruh dalam berinteraksi, berexplorasi, berkolaborasi, dan bertransaksi sehingga membentuk dunia dan manusia sebagai komunitas jejaring. Kemajuan ini tak perlu dibendung, melainkan harus disambut sebagai berkat Tuhan. Bila kita menyambutnya sebagai rahmat, maka instrument perlu disiapkan dan disetting seturut kehendak Tuhan adalah kejernihan pikiran/mental, moral dan spiritual. Sebagai orang beriman, kita menyambut kemajuan dunia digital ini dengan mental set, moral set dan spiritual set yang menempatkan sesama dalam komunitas jejaring sosial itu sebagai sesama anggota dalam komunitas yang insani sebagaimana tema Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-53 tahun ini; “Kita adalah Sesama Anggota”. Dengan setting mental, moral dan spiritual yang melihat dan memperlakukan sesama sebagai anggota dalam komunitas jejaring sosial maka komunitas jejaring sosial itu akan tetap menjadi komunitas yang insani, di mana pencapaian manusia akan mengangkat martabat manusia sebagai citra Allah.(GDAM)

Leave a Reply