Mengenal Lebih Dekat: RD. Oktavianus Bruno Mithe, Sempat Lupa Ingin Menjadi Pastor

Pastor Oktavianus Bruno Mithe adalah anak Pertama dari Empat bersaudara dari pasangan Bapak Wilhelmus Mithe dan  Ibu Martina Sampe, dilahirkan pada tanggal 11 Oktober 1990 di Samarinda, adapun jenjang pendidikan yang ditempuh.

  • 1996 – 1997 : TK Tunas Bangsa SP 5 Suka Maju
  • 1997 – 2003 : SD 001 SP 5 Suka Maju
  • 2003 – 2006 : SMPN 1 Kongbeng
  • 2006 – 2009 : Seminari DON BOSCO serta SMK WR.Soepratman Samarinda
  • 2009 – 2010 : KPA Seminari Don Bosco serta mengikuti kursus di STKPK Bina Insan
  • 2010 – 2011 : Tahun Orientasi Rohani (TOR) di Beato Geovanni Lawang
  • 2011 – 2015 : Seminari Tinggi Inter Deocesan Beato Geovanni Malang sekaligus kuliah program Strata 1 di STF Widya Sasana Malang
  • 15 Agustus 2015 : Di lantik menjadi Lektor Akolit oleh P.Moses Komela Avan di Katedral Samarinda.
  • 2015 – 2016 : Tahun Orientasi Pastoral di Paroki St. Maria Fatima Penajam Paser Utara dengan pembimbing P. Wiyono, OMI
  • 2016 – 2018 : Seminari Tinggi Antonio Ventimiglia
    Serta mengikuti program Strata II di sekolah tinggi Teologi Pastor Bonus Pontianak
  • 4 Agustus 2018 : Masa persiapan Diakonat di Paroki St.Petrus Ujoh Bilang.
  • 24 Oktober 2018 : Menerima Tahbisan Diakonat oleh MGR. Yustinus Harjo Susanto.MSF di Seminari Menengah St.Yohanes Don Bosco Samarinda
  • 25 Oktober 2018 – 25 April 2019: Menjalani masa Diakonat di Paroki St.Petrus Ujoh Bilang.
  • 07 Mei 2019 : Menerima Tahbisan Imam oleh MGR. Yustinus Harjosusanto, MSF di Gereja Katolik St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, Kutai Timur
Dok: 07 Mei 2019 Tahbisan Imam oleh MGR. Yustinus Harjosusanto, MSF di Gereja Katolik St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing (*IG: chris_djoka)

Awal Ketertarikan Menjadi Pastor

Saat saya kelas 4 SD, di Stasi kami di SP 5 Wahau dulu jarang sekali dikunjungi Pastor, jadi ketika Pastor datang saat acara seperti Sambut Baru dan acara lainnya pasti disambut dengan acara besar, seperti didirikan tenda, potong babi, potong ayam, sehingga saya melihat kok enak sekali jadi Pastor ya, disambut seperti Bos saja, lalu saya pulang ke rumah mengatakan kepada Bapak saya, ” Bapak, saya nanti mau jadi Pastor” dengan semangatnya Bapak  menjawab” Oh iya iya” karna memang sebenarnya Bapak saya dulu ingin sekali menjadi Pastor tapi karna satu dan lain hal Bapak tidak bisa melanjutkan cita-cita tersebut.

Lupa Ingin Menjadi Pastor

Sempat juga waktu saya SMP, saya lupa akan cita-cita saya ingin menjadi Pastor, saya sempat pacaran dan menjalani aktivitas layaknya anak seusia itu, singkat cerita pada saat hari kelulusan SMP saya coret-coret baju, rambut warna- warni, kemudian saya pulang ke rumah mau mandi, saat itu disumur belakang rumah, kemudian Bapak nyusul saya ke belakang ” Barce cepat sudah beres-beres kita mau ke Samarinda” lalu jawab saya ,loh ngapain ke Samarinda pak ? , ” kita mau ke Seminari, katanya mau jadi Pastor” sahut Bapak saya, lalu saya berpikir sambil mengingat, “Oh iya” dan saat itu tahun 2006 masuklah saya ke Seminari St.Yohanes Don Bosco Samarinda.

Bagi OMK 

Sebenarnya kita semua sudah dipanggil saat menerima Rahmat Pembabtisan, lalu ada orang- orang tertentu yang memang dipilih Tuhan untuk menjadi PelayanNya, persoalannya adalah apakah kita mau dipilih, banyak orang dipilih tapi ragu-ragu sehingga itu yang membuat mereka gagal, yakin saja, waktu itu saya sendiri, dari tujuh orang teman angkatan saya yang mendaftar menjadi Pastor, dan bertahun- tahun saya menjalani panggilan saya tanpa teman seangkatan, perjuangan yang memang tidak mudah, tapi saya yakin dengan jalan yang sudah dipilih, maka dari itu bagi siapa saja yang punya niat menjadi pelayan Tuhan, itulah suara hati kita yang berasal dari Roh Kudus dan jangan kita tutupi dengan keraguan kita.

Bagi Orang Tua

Hal yang perlu disadari mungkin dari kita, yaitu terkadang sering keluhkan tentang kurangnya tenaga Pastor, seperti jarang menerima Komuni di daerah-daerah dan Stasi tertentu, Pastornya masih sedikit, sering memprotesi kekurangan Pastor satu dan lain, sementara jika anak kita mempunyai niat menjadi pelayan Tuhan, kita tidak mendukung atau bahkan melarangnya, hal yang bertolak belakang sekali memang. Hendaknya
bagi orang tua jika anak mempunyai niat ingin menjadi Imam, Suster dan Pelayan Tuhan  teruslah mendukung anak tersebut, melarang anak tersebut menjadi pelayan Tuhan sama saja kita menahan rahmat Tuhan yang turun ke dunia ini.

Leave a Reply