Salib Kristus di Puncak Golgota

Pengantar

Salah satu bagian penting dalam liturgi Jumat Agung kita merenungkan sengsara dan wafat Tuhan kita Yesus Kristus. Lambang utama yang menjadi fokus liturgi Jumat Agung hanya satu, yakni Salib. Tentang pentingnya hal ini,  Gereja menetapkan peraturan demikian, “Salib harus disajikan kepada setiap orang untuk dihormati karena penghormatan pribadi adalah unsur hakiki perayaan ini.”(Perayaan Paskah dan Persiapannya,  No. 69). Bahkan sesudah perayaan pun  Gereja mengajak umat agar jangan langsung pulang, tetapi secara pribadi memberi waktu sejenak untuk menghormati salib dan merenung dihadapannya (bdk. PPP, No. 71).

Penghormatan terhadap Salib Kristus tidak hanya sebatas pada ibadat Jumat Agung saja. Sekarang ini, umat beriman terbiasa untuk menghormati lambang salib, baik secara pribadi maupun bersama. Sekarang kita g dengan bangga dapat mengenakan kalung salib dan memajang salib baik di rumah, di kamar, di kantor bahkan di kendaraan pribadi. Keadaan ini berkembang perlahan mulai dari awal mula hidup Gereja. Kita simak berikut ini.

Salib Bagi Orang Kristen Awali

Pada tahun 40-an, abad ke-7, 10 atau 15 tahun sesudah Yesus wafat, orang-orang Kristiani pertama yang tidak dikenal namanya sampai di kota Roma. Meskipun pada tahun 49 Masehi mereka sempat diusir dari kota Roma, mereka tetap kembali ke ibu kota. Pilihan itu mengandung resiko yang besar. Mereka dikejar-kejar dan kerap diserang hingga terjadi pertumpahan darah. Hal ini membuat Gereja bersembunyi di bawah tanah, ke dalam katakomba-katakomba.

Di dalam katakomba-katakomba Roma banyak ditemukan lambang-lambang Kristiani, misalnya sebakul roti yang melambangkan Ekaristi, gambar gembala yang baik, gambar wanita sedang berdoa dengan lengan terentang sebagai lambang Gereja yang berdoa. Namun, hampir tidak ada lambang salib di sana. Umat Kristiani awali amat enggan untuk menunjukkan salib yang adalah lamban keselamatan mereka di muka umum.

Ahli-ahli sejarah menunjukkan alasan-alasan yang membenarkan keengganan umat kristiani awali itu. Bagi orang-orang kafir maupun bagi orang Yahudi, amatlah tidak masuk bahwa Allah penyelamat wafat secara memalukan, dengan digantung di salib, seperti penjahat. Pandangan itu secara jelas dapat ditemukan pada sebuah lempengan marmer dengan graffiti yang disebut Graffito Alexamenos. Graffiti ini menggambarkan seorang berkepala keledai yang disalibkan; disampingnya ada gambar orang yang tangannya menunjuk ke salib tersebut. Graffiti itu jelas sekali melukiskan penghinaan orang Yunani-Romawi terhadap iman orang Kristen yang menyembah Kristus yang tersalib. Kristus digambarkan sebagai dewa berkepala keledai (mungkin sekali lambang ketololan juga, sebab keledai memang dianggap binatang yang tidak pandai seperti kuda).

Selain itu, keengganan umat kristiani awali itu disebabkan karena mereka tidak merasa nyaman menggambarkan kekerasan penyaliban Romawi dalam segala kebrutalannya, terutama ketelanjangan si korban. Baru sesudah Kaisar Konstantinus mengaku dirinya melihat salib di langit dan meminta gambar salib dipahatkan pada tameng-tameng serdadu-serdadunya, keengganan dan ketidaknyaman itu menghilang (Luis Bermejo 2008:14-15). Karena itu, hingga saat ini kita barangkali pernah mendengar seruan legendaris Kaisar Konstantinus yang diserukannya ketika akan melawan Maxentius (sekitar 312). Seruan itu ialah, “In hoc signo vinces” artinya, dengan “tanda (salib) engkau akan menang”. Singkatan dari ungkapan ini adalah I.H.S (In Hoc Signo). Salib tidak perlu disembunyikan lagi.

Salib Hukuman yang Kejam dan Mengerikan

Untuk mengerti keengganan dan ketidaknyamanan umat Kristiani awali itu, maka baik kalau kita mengerti perihal salib dan hukuman salib itu sendiri. Salib, menurut arti aslinya, baik kata Yunani “stauros” maupun kata Latin “crux” (=salib) adalah satu satu tiang tegak yang ditancapkan di tanah. Semula, salib adalah hukuman mati berupa penyulaan, yaitu menancapkan atau menusukkan badan orang pada sebuah tiang yang ujungnya runcing, mulai dari bawah pantatnya ke atas. Dalam perkembangannya, salib mendapat unsur tambahan, yakni tiang lain yang melintang yang disebut patibulum. Tiang yang melintang itulah yang harus dibawa oleh orang yang dihukum mati ke tempat penyaliban. Sesampainya di tempat penyaliban, dia disalibkan dengan cara diikat atau dipaku pada tiang yang sudah tersedia. Yesus disalibkan dengan cara dipaku sebab dalam Yoh. 20:25, Tomas ingin memasukkan jarinya ke dalam luka bekas paku pada tangan Yesus untuk membuktikan bahwa Dia telah bangkit (Henricus Pidyarto, 2014:30).

Hukuman salib adalah hukuman yang amat mengerikan. Hukuman salib ini berasal dari Persia dan kemudian diambil alih oleh Alexander Agung (raja Yunani). Lewat bangsa Yunani inilah bangsa Romawi mengenal dan memakai hukuman salib. Hukuman ini bukan hanya mengerikan tetapi juga merendahkan derajat manusia. Orang yang dihukum ditelanjangi di depan umum, dirampas kehormatannya, dan boleh diolok-olok oleh penonton yang hadir (bdk. Mat. 27:32-44). Bagi orang Romawi hukuman ini hanya dijatuhkan bagi orang-orang asing yang memberontak, para budak, penjahat, dan perampok tingkat tinggi. Tujuannya ialah untuk membuat orang asing dan budak tidak berani membuat onar sekaligus memberikan efek jera.

Salib merupakan hukuman yang kejam dan amat mengerikan juga karena orang yang disalib dibiarkan bergantung dalam waktu yang cukup lama; kepanasan di waktu siang dan kedinginan di waktu malam. Diusahakan agar si terhukum jangan cepat mati dan mungkin karena alasan itu ada semacam tempat duduk kecil dipasang di bagian pantat agar orang yang di salib dapat menyangga badannya. Jika tidak demikian, si terhukum akan cepat mati karena kesulitan bernafas. Bahwa orang yang disalibkan diharapkan bertahan agak lama dapat disimpulkan dari beberapa data dari Kitab Suci. Pemaksaan Simon dari Kirene oleh para prajurit untuk membantu memikul salib Yesus (Mrk. 15:21) dan keheranan Pilatus ketika mendengar bahwa Yesus sudah mati setelah cuma 6 jam bertahan dari sekitar pkl.09.00 hingga pkl. 15.00 (bdk. Mrk. 15:25.34-35) (Henricus Pidyarto, 2014:31-32)

Karena itu, Cicero, ahli pidato Romawi yang terkenal, menganggap salib sebagai hukuman yang peling kejam dan memuakkan (Pidyarto Henricus, 2014:29). Bagi orang Yahudi pun hukuman salib dianggap sangat mengerikan dan orang yang mengalami hukuman seperti itu masuk dalam kategori “terkutuk”. Dalam Ulangan 21:22-23 ada tertulis, “Apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian kaugantungkan mayatnya pada sebuah tiang (aslinya berbunyi: “pada sebuah pohon”), maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkannya pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah … “  Teks tersebut oleh orang Yahudi pada zaman Perjanjian Baru ditafsirkan sebagai referensi pada kayu salib. Dalam naskah Laut Mati (Qumran) menjadi jelas bahwa “digantung pada pohon” sama dengan “disalibkan”. Hukuman ini pantas diberikan kepada pengkhianat bangsa dan orang yang mendatangkan bencana untuk bangsa (Henricus Pidyarto, 2014:30).

Salib adalah Kekuatan Allah (bdk. 1Kor 1:18)

Kita Suci dengan terang benderang mengatakan “Salib adalah kekuatan Allah”.  Salib memang hukuman yang kejam, mengerikan, dan merampas serta merendahkan derajat Yesus. Karenanya tidak bisa diragukan lagi, tidak mudah bagi para rasul untuk mewartakan Yesus yang tersalib itu. Mengapa? Karena salib Yesus adalah suatu batu sandungan bagi orang-orang Yahudi dan kebodohan bagi orang-orang bukan Yahudi (1Kor. 1:23).

Namun, dalam terang kebangkitan, para rasul melihat nilai sengsara dan wafat Yesus Kristus sebagai karya keselamatan Allah yang mengagumkan. Tanpa kebangkitan, semua yang diderita Yesus hanyalah peristiwa tragis yang tidak ada artinya. Sebaliknya, tanpa sengsara dan wafat tidak ada juga kebangkitan. Paus Fransiskus sendiri menegaskan kebenaran ini dengan berkata, “Salib adalah pintu kepada kebangkitan” (Angelus Domini, 12 Maret 2017).

Salib bukanlah tanda kutukan dan tanda kebodohan, tetapi lambang dari kekuatan dan hikmat Allah (Bdk. 1Kor. 18, 23-24). Yesus adalah Hamba Yahwe yang “memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilurnya kita telah sembuh” (1Ptr. 2:24). Karena itu, Paus Fransiskus mengajak umat beriman agar melihat salib bukan sebagai perabot sebuah rumah atau perhiasan untuk dikenakan, tetapi sebagai lambang dari iman Kristiani, lambang Kristus yang karena kasih mengorbangkan diri-Nya agar manusia diselamatkan dari kejahatan dan dosa (Angelus Domini, 16 September 2018).

Sumber bacaan:

Bermejo, Luis, “Selubung Kirmizi:Jejak-jejak Penyaliban Almasih” (Yogyakarta:Kanisius, 2008).

Marwoto B.J. dan Witdarmoko, H, “Proverbia Latina: Pepatah-pepatah Bahasa Latin” (Jakarta:Kompas, 2004).

Pidyarto, Henricus, “Kisah Sengsara Yesus menurut Injil Matius (Malang:Karmelindo, 2014).

Dokumen Liturgi “Perayaan Paskah dan Persiapannya” (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis).

Leave a Reply