Sabtu Paskah: Sepi dan Hening

Pengantar

Setelah Jumat Agung kita terbiasa langsung terarah pada Vigili Malam Paskah. Kita terbiasa melewati salah satu “momen” penting dalam perayaan Trihari Suci, yakni Sabtu Paskah.

Sabtu Paskah: Suasana Sunyi dan Sepi

Sabtu Paskah bukanlah Vigili Malam Paskah itu sendiri, tetapi saat sebelum Vigili Malam Paskah dimulai. Paus Pius XII menyatakan saat tersebut sebagai “Hari Nyepi” untuk merenungkan misteri Yesus yang kini berada di dalam makam (Bosco Da Cunha, 2011:68). Selain “nyepi” suasana hari ini ditandai pula dengan pergeseran; masih ada sedikit unsur kelanjutan dari wafat Yesus, tetapi lama kelamaan unsur harapan dan penantian akan kebangkitan Yesus semakin kuat. Corak peralihan itu kelihatan juga dalam Ibadat Harian hari ini: belum ada kegembiraan Paskah, sekaligus duka Jumat Agung pun tidak ada. Inilah hari menunggu, Hari Sepi atau Sabtu Suci (Heijden van der Bert, 2002:64)

 “Momen” Sabtu Suci  ini disebut dengan beberapa istilah seperti “Sabtu Sunyi” atau “Sabtu Suci” (Latin: Sabbatum Sanctum; Hari Sabat Suci). Akan tetapi, baiklah kita menggunakan istilah “Sabtu Paskah” sebagaimana terjemahan Indonesia yang dipakai dalam dokumen liturgi “Perayaan Paskah dan Persiapannya”.

Sabtu Paskah; Saat Yesus Turun ke Tempat Penantian

Bunda Gereja mengajarkan kepada kita bahwa “Pada hari Sabtu Paskah Gereja tinggal di makam Tuhan, merenungkan Penderitaan, Wafat, dan turun-Nya ke alam maut dan menantikan Kebangkitan-Nya dengan puasa dan doa” (Perayaan Paskah dan Persiapannya No. 73). Sepanjang pagi sampai sore hari menjelang Vigili Malam Paskah, Bunda Gereja mengajak umat untuk hening dan merenungkan sengsara dan wafat Tuhan di kayu salib, memberitahu umat bahwa Yesus sedang turun ke dunia orang mati, dan menanti dengan penuh kerinduan kebangkitan Yesus dengan berdoa dan berpuasa

Karena itu, sebenarnya momen Sabtu Paskah ini tidak hanya bagian integral dari Trihari Suci tetapi juga merupakan momen yang penting dalam pengakuan iman Gereja Katolik. Dalam Credo, kita dengan lantang berseru, … “disalibkan, wafat, dan dimakamkan; yang turun ke tempat penantian”. Hal itu makin jelas dan tegas bila bacaan liturgi dalam ibadat bacaan Sabtu Paskah. Bacaan kedua pada ibadat bacaan diambil dari teks anonim yang berbicara mengenai Yesus “yang turun ke tempat penantian”, yaitu “syeol”. Refleksi kristiani selanjutnya, yang pertama kalinya tertulis dalam 1Ptr 3:19-20, menyadari bahwa Yesus masuk sebagai Penyelamat mereka yang tinggal di “syeol” itu juga (Heijden van der Bert, 2002:64).

Refleksi kristiani di atas juga ditampilkan dalam Efesus 4:9 yang mengatakan bahwa Yesus telah turun “ke bagian bumi yang paling bawah” (kediaman orang-orang mati yang dalam Perjanjian Lama disebut Hades atau Sheol). Yesus benar-benar telah mati dan roh-Nya pasti pernah berada dalam dunia orang mati, yakni masuk hades atau sheol, tempat semua orang mati, orang baik maupun orang jahat berada. Namun, Yesus tidak turun ke sana untuk membebaskan roh-roh orang jahat yang terkutuk, melainkan untuk menyelamatkan roh-roh orang benar yang menantikan Dia (Pidyarto Gunawan 2004:10). Bunda Gereja sendiri telah mengajarkan kita, “Yesus tidak datang ke dunia orang mati untuk membebaskan orang-orang terkutuk di dalamnya, juga tidak untuk menghapuskan nereka, tempat terkutuk, tetapi untuk membebaskan orang-orang benar, yang hidup sebelum Dia” (Katekismus Gereja Katolik, No. 633).

Mereka (orang-orang benar) menantikan Dia sebab pintu surga masih tertutup. Pintu surga yang tertutup membuat mereka (roh-roh orang benar) tidak bisa memandang Allah (Mzm 6:6). Itu semua merupakan konsekuensi dosa manusia pertama, Adam dan Hawa. Karena itu, orang-orang benar pada akhirnya tidak dapat langsung masuk ke surga, namun harus menunggu di tempat penantian atau disebut “Limbus Patrum” (Latin),  “Limbo of Just” , “Bossom of Abraham” (Ingris) pangkuan Abraham (lih. Luk. 16:19-31; kisah Lazarus yang duduk di pangkuan Abraham).   “Limbus” berarti perbatasan (maksudnya perbatasan antara neraka dan surga), dan “Patrum” berarti para bapa Perjanjian Lama yang saleh. Arwah mereka tidak masuk neraka, tetapi berada di sisi lain dari pintu surga yang masih tertutup (Pidyarto Gunawan 2004:10-11). Katekismus Gereja Katolik dengan jelas mengajarkan “Yesus tidak datang ke dunia orang mati untuk membebaskan orang-orang terkutuk di dalamnya, juga tidak untuk menghapuskan nereka, tempat terkutuk, tetapi untuk membebaskan orang-orang benar, yang hidup sebelum Dia”.

Penutup

Demikianlah, Sabtu Paskah, “momen” sebelum perayaan Vigili Malam Paskah tidak hanya bagian integral dari Trihari Suci, tetapi merupakan kesempatan yang menegaskan salah satu fondasi dari iman Gereja Katolik tentang keselamatan melalui sengsata, wafat dan kebangkitan Kristus. Sesudah dosa yang pertama, dunia dibanjiri oleh dosa. Tetapi Allah tidak meninggalkan manusia dalam kuasa maut. Sebaliknya, Allah memaklumkan dengan cara misterius bahwa kejahatan akan dikalahkan dan manusia diangkat dari kejatuhan. Inilah pewartaan pertama tentang Mesias penebus. Kejatuhan ini pada masa yang akan datang disebut dosa yang membahagiakan, karena “memunculkan Penebus yang begitu Agung” (Kompendium KGK No. 78).

Sebuah homili tua memberikan pengajaran ini kepada umat beriman; “Hari ini suasana sunyi mendalam meliputi dunia, suasana sunyi mendalam dan lengang. Suasana sunyi mendalam, karena raja mengasoh. Rasa takut menguasai dunia dan ia menjadi bisu, karena Allah – dalam daging – tertidur dan membangunkan manusia yang tidur sejak zaman dahulu kala … Ia pergi mencari Adam, leluhur kita, mencari domba yang hilang. Ia hendak mengunjungi mereka yang hidup dalam kegelapan dan dalam bayangan maut. Ia datang supaya membebaskan Adam yang tertangkap dan Hawa yang turut terperangkap itu dari penderitaannya. Ia, yang sekaligus Allah dan anak mereka … ‘demi engkau Aku menjadi anakmu, Aku, Allahmu … Bangunlah, hai orang yang sedang tidur … Aku tidak menciptakan kamu, supaya kamu ditahan dalam penjara dunia orang mati. Bangunlah dari orang-orang mati. Akulah kehidupan orang-orang mati” (Homili tua pada hari Sabtu Agung).

Sumber Bacaan:

Katekismus Gereja Katolik

Kompendium Katekismus Gereja Katolik

Dokumen Liturgi “Perayaan Paskah dan Persiapannya” (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis).

Da Cunha, Bosco. “Memaknai Perayaan Liturgi Sepanjang Satu Tahun” (Jakarta: Obor, 2011)

Heijden, Bert. “Menghayati Liturgi Paskah” (Yogyakarta:Kanisius, 2002)

Gunawan, Pidyarto. “Umat Bertanya, Romo Pid Menjawab” (Malang, Yogyakarta: Dioma, Kanisius, 2004)

Blog Katolisitas Indonesia

Katolisitas.org

Leave a Reply