Kisah Sengsara Yesus Kristus Menurut Yohanes

Pengantar

          Dalam liturgi Jumat Agung Kisah Sengsara Yesus menurut Yohanes selalu dibacakan atau dinyanyikan, pada tahun A, B maupun C.  Hal ini jelas berbeda dengan Kisah Sengsara yang dibacakan pada perayaan Minggu Palma. Jika tahun A, berarti kita membaca kisah sengsara Matius. Jika tahun B, berarti kita membaca kisah sengsara Markus. Jika tahun C, berarti kita membaca kisah sengsara Lukas. Kisah sengsara Yesus menurut Yohanes, oleh tradisi liturgi disediakan khusus bagi hari Jumad Agung (Fransiskus Borgias 2012:131). Alasanya apa? Kita simak berikut ini.

Teologi Yohanes Tentang Sengsara dan Wafat Yesus

Patut para pembaca ketahui bahwa dalam struktur Injil Yohanes, kisah sengsara Yesus berada pada bagian bagian ketiga, yang oleh para ahli tafsir dinamakan “Kitab Kemuliaan” (Yoh. 13:1-20:31). Disebut demikian Karena bagian ini berbicara mengenai tibanya “saat” Yesus dimuliakan, yakni saat Ia wafat dan bangkit dengan mulia (Eko Riyadi 2011:45)

Bagi penginjil Yohanes, sengsara dan wafat Yesus merupakan “saat” kemuliaan dan kedaulatan Putra Allah yang dengan bebas memutuskan untuk mengorbankan hidup-Nya karena Ia yakin bahwa Ia akan mendapatkannya kembali. Itulah sebabnya, dalam Injil Yohanes Yesus tidak dilukiskan sedang berdoa (apalagi berdoa dengan takut sampai berkeringat darah seperti Luk. 22:44) agar dibebaskan dari “saat” ini. Akan tetapi, Ia dengan penuh kepercayaan menerima dan menyadari bahwa inilah tujuan hidup-Nya. Kini “saat”-Nya sudah tiba dan karenanya dengan bebas dan sadar Ia melangkah menuju “tujuan” hidup-Nya itu (Fransiskus Borgias 2012:16).

Berbedadengan para penginjil sinoptik (Matius, Markus dan Lukas) Yohanes melihat peristiwa-peristiwa di sekitar wafat dan kebangkitan dalam kacamata Allah yang menyelenggarakan setiap peristiwa dengan penuh kuasa. Yesus ditampilkan begitu kokoh. Ia mengetahui segala yang akan terjadi. Ia memegang kendali atas rangkaian peristiwa di sekitar diri-Nya. Semua itu menunjukkan bahwa segala yang terjadi ada di dalam kontrol kuasa Allah. B.W. Bacon menyatakan bahwa Yesus menanggung kesengsaraan dan kematian bukan sebagai korban, melainkan sebagai tuan (pemegang kendali) yang bisa membawa akhir bagi segala sesuatu pada waktu yang Ia kehendaki. Kesengsaraan bukanlah nasib konyol. Salib yang menjadi puncak kesengsaraan adalah “saat” yang selalu diwartakan Yesus. Peristiwa salib adalah peninggian dan pemuliaan-Nya. Ia tampil sebagai ‘raja’ dan tuan yang mengontrol situasi sehingga Ia dapat melaksanakan kehendak Bapa sampai akhir (Eko Riyadi 2011:376, 379).

Dalam Injil Yohanes kita tidak mendengar kisah sakratul maut Yesus di Taman Getzemani. Tidak ada pula adegan kecupan pengkhianatan Yudas. Yang terjadi ialah Yesus justru maju menemui Yudas dan para prajurit yang mau menangkap-Nya. Dalam tanya jawab itu Yesus menjawab pertanyaan para prajurit dengan memperkenalkan diri: “Akulah Dia”  atau dalam bahasa aslinya, “ego eimi” (Yoh. 18:5).

Rumusan Yesus “Akulah Dia” – ego eimi ini dalam tradisi alkitabiah merupakan rumusan pewahyuan ilahi. “Nama” ego eimi adalah nama ilahi yang diwahyukan Yahweh kepada Musa dalam Keluaran (Kel. 3:14). Karena itu, jawaban Yesus, “Akulah Dia” merupakan ungkapan keilahian Yesus dan pernyataan tentang kesadaran mengenai keilahian-Nya (Yoh. 4:26; 6:20; 8:24; 28,58; 13:19) (Fransiskus Borgias 2012:23; Eko Riyadi 2011:379; Luis Bermejo 2008: 87).

Meskipun kisah sengsara Yesus menurut Yohanes menampilkan Yesus yang begitu kokoh dan dengan jelas memperlihatkan bahwa Yesus adalah tuan atas segala yang terjadi di seputar kesengsaraan dan wafat-Nya, namun Yohanes tetap memperlihatkan segi psikologis penderitaan Yesus, kesepihan, kesedihan-Nya yang luar biasa, juga penderitaan fisik, luka-luka di tubuh-Nya. Misalnya tentang Yesus yang disesah dan diolok-olok (Yoh. 19:1-3) seperti terdapat dalam Injil Sinoptik.  Hanya saja cara Yohanes melukiskan kisah tersebut berbeda dengan Injil-injil Sinoptik (Luis Bermejo 2008:86). Dalam Injil Kisah Sengsara menurut Yohanes kesengsaraan itu  adalah bagian utuh dari “Saat” kemuliaan dan kedaulatan Putra Allah yang dengan bebas memutuskan untuk mengorbankan hidup-Nya demi keselamatan dunia.

Penutup

Dari uraian di atas kiranya kita memahami dengan jelas maksud di balik tradisi liturgi Gereja yang  memilih kisah sengsara Yesus menurut Yohanes sebagai kisah sengsara yang senantiasa diperdengarkan kepada kita dalam liturgi Jumad Agung. Kisah sengsara menurut Yohanes sesungguhnya tidak lagi benar-benar sengsara, melainkan sudah mulai menampakkan kemuliaan, kegemilangan,serta kejayaan kebangkitan (Borgias Fransiskus 2016:132). Kita akan kembali merayakan iman kita akan sengsara dan wafat Yesus Kristus Tuhan kita  pada  hari jumat dalam Pekan Suci yang disebut  Jumat Agung; bukan Jumat kelabu atau Jumat pilu.

Inilah paradoks iman. Sungguh suatu hal yang bertolak belakang: sengsara, tetapi mulai, berjaya dan meraja. Dalam kisah sengsara menurut Yohanes yang paradoksal ini terungkap dengan salah satu fondasi iman Kristiani sebagaimana terangkum dalam rumusan Credo, “… yang menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, wafat, dan dimakamkan; yang turun ke tempat penantian pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati …”

Bahan bacaan:

Bermejo, Luis, “Selubung Kirmizi:Jejak-jejak Penyaliban Almasih” (Yogyakarta:Kanisius, 2008)

Borgias, Fransiskus, “Saat-saat Terakhir Hidup Yesus Menurut Yohanes” (Jakarta: Fidei Press, 2012)

Riyadi, Eko, “Yohanes” (Yogyakarta: Kanisius, 2011).

Dokumen Liturgi “Perayaan Paskah dan Persiapannya” (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis).