Mengendus Jejak Iman: Gereja Tua di Stasi St. Maria Magdalena, Long Isun Dalam

“Gereja Tua” “Masih kah kau ingat waktu di Desa, bercanda bersama di samping Gereja….hanya satu yang tak terlupakan kala senja di Gereja Tua…” Syair lagu klasik yang terus membumi di sepanjang jaman ini, kiranya dapat membawa kita untuk masuk dan mengenal sebuah bangunan gereja tua di Ulu Sungai Mahakam. Menurut penuturan beberapa tokoh, bangunan gereja ini disinyalir sebagai gereja tertua ke dua yang dibangun oleh para Misionaris setelah Gereja di Paroki Laham. Gereja tua ini terletak di salah satu stasi Paroki St. Yoseph Long Pahangai. Tepatnya di Stasi St. Maria Magdalena, Kampung Long Isun Dalam. Kita dapat menempuh perjalanan lewat air sekitar 1 jam. Bisa lebih cepat dari itu, apabila dengan mesin dengan kapasitas besar. Dulu kampung Long Isun Dalam adalah kampung yang ramai, namun ketika ada kebijakan dari Pemerintah Daerah beberapa puluh tahun lalu untuk menyatukan kampung-kampung yang terpisah untuk keluar berdampingan di sepanjang Tepian Sungai Mahakam, maka banyak penduduk Kampung ini yang memilih untuk pindah ke luar. Kendati demikian, tidak semua penduduk kampung ini yang setuju untuk pindah. Menurut penuturan ketua umat di Stasi ini,

Kampung Long Isun Dalam masih di huni oleh 48 KK. Bahkan terus ada peningkatan yang signifikan dari setiap tahunnya. Kelompok tua dan beberapa tokoh pemuda pada masa perpindahan itu tetap memilih tinggal dan menetap di dalam karena bagi mereka “untuk apa pindah di luar, toh kita masih juga kembali ke dalam untuk buat ladang”. Pilihan untuk tetap bertahan ini, tentu membuahkan konsekuensi. Penduduk Kampung Long Isun yang kala itu tinggal beberapa KK saja tentu tidak dapat mempertahankan status wilayah mereka sebagai sebuah Desa atau Kampung yang diakui oleh Pemerintah. Maka hingga kini Kampung Long Isun dalam hanya menjadi bagian dari Kampung Long Isun Luar yang diakui pemerintah sebagai sebuah Desa. Mereka yang ada di dalam hanya diakui sebagai bagian dari warga Kampung Luar dan dipimpin oleh seorang ketua RT. “Kampung Tua” dan Gereja Tua, perlahan-lahan mulai menggeliat untuk menuntut keadilan dan perlakuan yang sama. Mereka nyaris dilupakan bahkan mungkin enggan untuk “dianggap ada”. Jalan yang dibangun sejak jaman pemerintahan Kutai Barat, masih belum tersentuh oleh Pemegang Kebijakan di wilayah Kabupaten yang baru. Atau mungkin belum informasi tentang mereka tidak pernah sampai ke telinga Penentu Kebijakan.

Rumah-rumah penduduk pun mulai tua dan rapuh. Bahu membahu mereka berupaya dengan semangat gotong royong untuk perlahan-lahan merenovasi rumah-rumah penduduk yang mulai tua seiring usia tuan pemilik rumah. Hal yang sama rupanya juga dialami oleh Gereja yang dibangun sejak jaman Para Misionaris awali ini. Tua termakan usia. Lantai-lantai mulai rapuh bahkan banyak yang mulai berjatuhan. Kita harus hati-hati menjejakkan kaki ketika merayakan Ekaristi di gerjan ini. Menurut penuturan ketua Umat yang sudah beberapa periode memimpin, usulan untuk membangun mohon bantuan Pemerintah agar membantu pembangunan gedung gereja yang baru telah berkali-kali dikirim. Namun, entah tersangkut di mana. Tak ada kabar berita tentang beberapa proposal yang telah mereka ajukan itu. Penantian panjang akhirnya mendapat jawaban. Di akhir tahun 2018, ketika bertepatan dengn Turney Natal, Bupati Mahakam Ulu langsung masuk meninjau lokasi Gereja tua yang kian “kritis” termakan usia ini. Dia pun berjanji untuk segera membangun gedung gereja yang baru bagi umat stasi St. Maria Magdalena, Long Isun Dalam. Palu akhirnya diketok oleh para wakil Rakyat, Gereja Long Isun Dalam definitif akan dibangun pada tahun 2019 setelah momen Pesta Demokrasi. Ada nafas legah dan suasana sukacita bagi Umat LID. Mimpi dan harapan mereka untuk memiliki gereja baru akhirnya akan segera terwujud. Kegembiraan mereka pun dilengkapi dengan digelontorkan sejumlah dana untuk membantu perehapan rumah-rumah tua yang mulai termakan usia. Bahkan membantu beberapa KK baru untul membangun rumah, karena selama ini masih menumpang di rumah asal orang tua. Long Isun dalam tampak semakin indah dan mulai ramai dikunjungi. Tidak hanya dari pihak Gereja atau paroki yang hampir 2 sampai 3 kali dalam satu bulan masuk, namun juga rutin sambangi oleh pihak kesehatan Masyarakat untuk membantu pengobatan dan pelayanan kesehatan bagi maayarakat. Mereka tidak dilupakan. Mereka bukan penduduk yang terisolasi. Mereka adalah bagian dari kita yang lebih memilih tinggal dan menjadi bagian dari khalayak ramai. Mereka hanya mau bertahan untuk menikmati ketenangan. Mereka hanya ingin tetap membuat ladang di tanah yang subur. Mereka hanya ingin menikmati air yang sejuk dan bersih. Mereka kaya dengan hasil alam dan ikan yang segar. Ketika orang-orang di luar mulai kesulitan mendapat ikan segar dan air bersih, Sungai Meraseh menjadi tujuan utama untuk mendapatkan apa yang dicari. Ketika suasana kampung Tepian mulai ramai dan memuyakkan, Long Isun Dalam yang damai dan subur menjadi tujuan mencari dan menemukan ketenangan. Masih satu harapan dalam doa mereka, semoga kelak kampung kami menjadi Desa Mandiri atau Kampung yang Dedinitif diakui oleh Pemerintah dan bukan hanya sekedar wilayah RT yang menjadi bagian dari kampung luar yang mulai ramai dan sempit. Kami tetap mendoakan, dan biarlah Tuhan yang menetukan semua yang terbaik. Bukan saatnya menyalahkan siapapun. Sekarang bukan saatnya menyesali dan mencari “Kambing Hitam”. Sekarang saatnya membangun kampung. Saatnya membangun manusia. Membangun gedung gereja baru. Tidak ada waktu untuk mencari kesalahan dan menyesali. Saatnya berlari bersama menggapai masa depan yang semakin baik. Biarlah Gereja Tua dan Kampung Tua tetap menjadi kenangan indah. Namun kita jangan terlena olehnya. Kita bangkit menjadi masyarakat dan warga gereja yang maju dalam segala hal, teristimewa dalam hal iman. R.D. Zakeus Daeng, Long Pahangai, 10 April 2019.

 

Leave a Reply