R.D. Zakeus Daeng : Riam, Hidup atau Mati, Kita Milik Tuhan

“Hidup atau Mati, Kita Milik Tuhan”. Kalimat sederhana yang diungkapkan oleh Rasul Paulus ini menjadi pesan yang meneguhkan bagi kami yang bertugas di Hulu Riam. Medan dan tantangan alam yang berat membuat hati selalu tidak tenang ketika hendak melakukan perjalanan untuk milir atau pun mudik kembali ke Paroki tempat tugas. Wilayah Hulu Sungai Mahakam memang menjanjikan pemandangan alam yang eksotis dan indah untuk dinikmati. Namun kerab ketika nasib kurang beruntung, seakan ada “harga” yang harus dibayar dengan mahal. Tidak hanya ongkos transportasinya yang membuat kantong langsung “kering”, tetapi tantangan perjalanannya pun kerab mendebarkan.


Maut terus mengintai dan meminta korban di setiap Riam yang didaki oleh perahu panjang (LongBoat) ataupun kendaraan Reguler (SpeedBoat) yang mematok harga kian memekikan telinga. Perjalanan yang serba salah, entah Pasang atau Surut, Ulu Riam Mahakam selalu menyajikan tantangan yang semakin mendekatkan kita pada Sang Pemberi Kehidupan. Kiranya inilah tantangan yang juga dihadapi oleh Rasul Paulus pada masanya, para Misionaris dan imam-imam terdahulu. Sudah puluhan tahun Indonesia merdeka, tapi tampaknya buah dari kemerdekaan yang terwujud dalam salah satu Sila Pancasila, belum seutuhnya dinikmati oleh “kami” yang tinggal di Ulu Riam. Semoga 10 tahun yang akan datang semua berubah menjadi lebih baik. Inilah mimpi dan harapan kami tatkala Riam-riam kembali meminta “tumbal”.

Belum lama ini kembali 4 nyawa harus menghadap Yang Kuasa. Mahakam belum berhenti meminta korban. Kembali, entah hidup, entah mati kita milik Tuhan. Ungkapan ini tetap meneguhkan kami yang memberikan diri melayani umat di 2 Paroki perbatasan, (St. Yosep Long Pahangai dan St. Paulus Tiong Ohang). Moto para Romo Kevikepan Mahakam Ulu tetap menjadi ungkapan ringkas yang meneguhkan dan membahagiakan”Tabah dan Bahagia”. Kami serasa memiliki pegangan dikala lelah, putus asa dan bahkan merasa hanya bekerja sendiri. Sudah berusaha sebaik mungkin namun tidak membawa perubahan yang signifikan. Tetap tabah dan bahagia dalam mengemban tugas membantu Bapa Uskup menggembalaka Domba-dombanya di wilayah perbatasan. Kami tetap optimis,kendatipun menghadapi medan yang berat, namun Tuhan pasti akan membuka jalan. Semoga pemegang amat Rakyat cepat merespon keadaan geografis Ulu Riam yang “kritis sentuhan” agar dapat berlari mengimbangi wilayah lain di Hilir Sungai Mahakam. Mahakam masih terus menuntut korban, namun tak ada yang perlu ditakuti. Mengutip seruan Ayub, “Tuhan Yang Memberi, Tuhan yang Mengambil. Terpujilah Nama Tuhan”. Di mana pun, kapan pun dan dengan cara apapun kita pasti akan pulang kepadaNya. Yang paling penting saat ini adalah tetap tabah dan bahagia melayani umat. Entah hidup, entah mati kita milik Tuhan. R.D. Zakeus Daeng. Lopa, 5 April 2019.

 

Leave a Reply